"Transformasi Modern Bangsa: Pentingnya Riset dalam Mewujudkan Kemandirian dan Kemajuan Ekonomi" oleh BANG BIBIB

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Iklan Semua Halaman

"Transformasi Modern Bangsa: Pentingnya Riset dalam Mewujudkan Kemandirian dan Kemajuan Ekonomi" oleh BANG BIBIB

FORUM JASA KONSTRUKSI
Kamis, 11 Januari 2024
FORJASIB|Banyuwangi; Eksistensi negara itu ditopang oleh adanya rakyat, wilayah dan budaya. Tetapi peradaban sebagai bangsa merdeka ditopang oleh Sains. Tanpa sains maka negara itu tidak akan pernah merdeka dalam arti sesungguhnya. Teknologi informasi adalah teknologi yang dibangun dengan basis utama teknologi komputer. Namun dia menjadi berkembang luas setelah ditemukannya material untuk sirkuit elektronik berukuran mikro, yang sehingga bisa menyimpan data berskala mega sampai terra. Tanpa riset tidak mungkin dunia bisa menikmati kemudahan dari adanya internet dan big data.

Tapi yang menikmati kemelimpahan kemakmuran dari adanya IT itu adalah mereka dan negara yang menguasai riset IT. Nilai Market kapitalisasi Apple itu USD 2,8 trilion atau dua setengah kali dari PDB Indonesia. Bayang kan 270 juta rakyat dengan jutaan elite terpelajar dan luas wilayah terbentang dari sabang sampai marauke dengan jumlah 17.000 pulau, bisa kalah dengan satu perusahaan APPLE yang menguasai riset. Apple berkembang karena dukungan riset aplikasi software dari AS dan riset material dari China.
Kemarin waktu COVID, hanya 7 negara yang menguasai vaksin karena hanya mereka yang punya riset. Dari 7 negara itu nomor satu adalah China dan nomor dua dari negara-negara Eropa. Secara bisnis saat covid yang menikmati kemelimpahan laba atas obat obatan hanya empat korporasi yaitu Pfizer, BioNTech, Moderna, dan Sinovac. Makanya negara yang menguasai riset pharmasi punya posisi tawar yang sangat diperhitungkan dalam politik global berkaitan dengan ekonomi dan kebudayaan.

Kelemahan Indonesia sejak era Orla, design pembangunan tidak bertumpu kepada riset. Kita lebih mengandalkan kepada SDA. Politik kita adalah politik feodal. Dimana segelintir orang tanpa kerja banyak dan tanpa memeras otak bisa kaya raya dari SDA. Kebijakan negara kepada politik feodalisme. Tidak ada design jangka panjang penguasaan tekhnologi dan kemandirian. Sampai era jokowi malah Indonesia masuk era deindustrialisasi. Ketergantungan impor sangat tinggi. Riset semakin terabaikan. Banyak SDM hebat lulusan Universitas terbaik malah berkarir di luar negeri.

Dalam pilpres dan Pilkada selalu visi nya populisme. Barulah saat Ganjar menjadi Capres, visi mengelola negara secara modern berbasis riset dikampanyekan. Mengapa ? Kita tidak bisa membangun fisik dan berharap terjadi transformasi berpikir modern tanpa dukungan riset yang serius. Itu sama saja monyet diberi baju tinggal di istana megah semacam IKN. Tetap aja monyet. Lambat laun Istana itu akan hancur dengan sendirinya dan Monyet balik ke hutan bertelanjang badan.