FORJASIB|Banyuwangi; Tan Malaka memimpin kita untuk berpikir merdeka secara ilmiah, menghindari terjebak dalam hambatan. Gagasan-gagasannya yang terwujud dalam 27 buku, brosur, dan ratusan artikel mengajak kita berpikir futuristik, mandiri, konsekwen, dan konsisten. Karya monumentalnya, Madilog, memperkenalkan cara berpikir ilmiah kepada bangsa Indonesia, menolak pemikiran dogmatis dan doktriner.
Materialisme
Tan Malaka tidak mengajak untuk memandang segala sesuatu hanya sebagai materi, tetapi untuk fokus pada kenyataan dan mencari penyebab di baliknya. Rezeki Tuhan adalah konsepsi yang membutuhkan akal manusia. Materialisme Tan bukan filosofi materi, melainkan keterarahan perhatian pada realita dan penggunaan ilmu pengetahuan. Daripada hanya mencitrakan penurunan kemiskinan, kita diundang untuk menyelidiki penyebabnya dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan.
Dialektika
Tan Malaka mengajarkan bahwa kehidupan selalu berubah, dan menolak keberlanjutan anti-perubahan sebagai tindakan yang menentang hukum ketetapan Tuhan. Dialektika mengakui bahwa tidak ada kebenaran atau kesalahan absolut, melainkan langkah-langkah yang saling bertentangan. Ini tercermin dalam "hukum penyangkalan dari penyangkalan" dan "hukum peralihan dari pertambahan kuantitatif ke perubahan kualitatif".
Logika
Logika, menurut Tan Malaka, tetap berlaku dalam dimensi mikro dan tidak dibatalkan oleh dialektika. Sebagai contoh, warna kuning pada jeruk adalah konsepsi dari informasi yang diolah oleh otak kita. Meskipun dialektis, logika membantu ilmu pengetahuan mencapai potensialitas sejatinya. Pemikiran logis dengan dasar dialektis membebaskan ilmu pengetahuan, dan perubahan serta koreksi terus menerus dilakukan dengan mengagungkan keberadaan Tuhan.(CWW)

Komentar